BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan terdapat bahasan pokok yang meliputi proses belajar-mengajar berupa tujuan pembelajaran, materi yang di sampaikan, metode penyampaian materihinggaevaluasi dari hasil proses belajar-mengajar. Keempat bahasa inilah yang akan memberikan keberhasilan pada sebuah proses belajar mengajar.

Namun keberhasilan suatu proses belajar-mengajar tidakakan berhasil tanpa di dukung oleh evaluasi yang baik. Sebab dengan adanya evaluasi yang baik, maka kita akan mengetahui seberapa jauh keberhasilan kita dalam memberikan materi dan seberapa berhasil kita dalam mencapai tujuan dari proses belajar-mengajar, sehingga evaluasi mutu hasil belajar merupakan bagian penting untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.

Taksonomi dalam pendidikan dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan .Taksonomi bloom merupakan cara memungkinkan mengubah proses pembelajaran. Dengan menggunakan taksonomiini, guru memberikesempatan kepada siswa untukmemperluas proses-proses pemikiran mereka.

 

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa pengertian taksonomi?

2.     Apa pengertian taksonomi bloom?

3.     Bagaimana klasifikasi taksonomi bloom?

4.     Bagaimana taksonomi bloom dalam perspektif pakarpendidikan?

5.     Apa teori belajar dan prinsip belajar  yang  melandasi taksonomi bloom?

 

 

 

C.   Tujuan

1.     Mengetahui pengertian taksonomi.

2.     Mengetahui pengertiantak sonomi bloom.

3.     Mengetahui bagaimana klasifikasitak sonomi bloom.

4.     Mengetahui taksonomi bloom dalam perspektif pakar pendidikan.

5.     Mengetahui teoribelajar dan prinsip belajar yang melandasi taksonomi bloom.



BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Pengertian Taksonomi

 

Secara bahasa taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu tassein dan nomos. Tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat pula diartikan secara istilah yaitu, sebagai pengelompokan suatuhal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum atau masih luas dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik atau lebih terperinci.

Secara etimologi,  taksonomi memiliki makna perincian,  klasifikasi atau sistem kategori,  di  mana  kategori-kategori disusun atas dasar pertentangan. Sedangkan secara terminologi, taksonomi merupakan suatu tipe sistem klasifikasi yang  khusus,  yang  berdasarkan  data  penelitian ilmiah mengenai hal-hal  yang digolongkan dalam sistematika itu.

Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menja dibeberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, danp sikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampaiting kah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.

 

B.    Pengertian Taksonomi  Bloom

Secara teoritis,  menurut Taksonomi Bloom ini, tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

a.      Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual , seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

b.     Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, sepertiminat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

c.       Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

 

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, danpengamalan.

      Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

 

C.   Klasifikasi Taksonomi Bloom

Tujuan pendidikan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

a.     Ranah kognitif (cognitive domain)

Cognitive Domain adalah yang berisi perilaku – perilaku yang menekankan aspek intelektual, Seperti pengetahuan,pengertian, dan keterampilan berpikir. Ranah kognitif meliputi fungsi memproses informasi,pengetahuan, dan keahlian mentalis. Ranah kognitif menggolangkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang menggambarkan tujuan yang di harapkan. Bloom membagi ranah kognitif ke dalam enam tingkatan atau kategori, yaitu:

 

1.     Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).

2.     Pemahaman (comprehension)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menangkap makna dan arti tentang hal yang dipelajari Adanya kemampuan dalam menguraikan isi pokok bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan.

3.     Penerapan (application)

Kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode untuk menghadapi suatu kasus atau problem yang konkret atau nyata dan baru. kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur metode, rumus, teori dan sebagainya.

4.     Analisis (analysis)

Di tingkat analisis, sesorang mampu memecahkan informasi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain. Kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan.

5.     Sintesis (synthesis)

Kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan stu sama lain. Kemampuan mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana penyusunan satuan pelajaran

6.     Evaluasi (evaluation)

Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu materi pembelajaran, argumen yang berkenaan dengan sesuatu yang diketahui, dipahami, dilakukan, dianalisis dan dihasilkan. Kemampuan untuk membentuk sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya kemampuan menilai hasil karangan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menentukan penilaian terhadapa sesuatu.

b.     Ranah Afektif (affective domain)

Affective Domain berisi perilaku – perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

1.     Penerimaan (Receiving/Attending)

Seseorang peka terhadap suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya yang dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya. Misalnya juga kemampuan mengakui adanya perbedaan-perbedaan

2.     Tanggapan (Responding)

Tingkatan yang mencakup kerelaan dan kesediaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Hal ini dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang disjikan, meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan. Misalnya, mematuhi aturan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

3.     Penilaian atau Penentuan Sikap (valuing)

Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. 16 Mulai dibentuk suatu sikap,menrima, menolak atau mengabaikan. Misalnya menerima pendapat orang lain.

4.     Organisasi (organization)

Kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Misalnya, menempatkan nilai pad suatu skala nilai dan dijadikan pedoman dalam bertindak secara bertanggungjawab.

5.     Pembentukan Pola Hidup (characterization by a value)

Kemampuan untuk menghayati nilai kehidupan, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya hidupnya. Kemampuan ini dinyatakan dalam pengaturan hidup diberbagai bidang, seperti mencurahkan waktu secukupnya pada tugas belajar atau bekerja. Misalnya juga kemampuan mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin

c.      Ranah Psikomotor (psychomotoric domain)

Ranah psikomotor kebanyakan dari kita menghubungkan aktivitas motor dengan pendidkan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata juga membutuhkan gerakan.  Kawasan psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan jasmani. Rincian dalam ranah ini tidak dibuat oleh Bloom, namun oleh ahli lain yang berdasarkan ranah yang dibuat oleh Bloom, antara lain :

 

1.     Presepsi

Persepsi (perception) Kemampuan untuk menggunakan isyarat-isyarat sensoris dalam memandu aktivitas motrik. Penggunaan alat indera sebagai rangsangan untuk menyeleksi isyarat menuju terjemahan.

2.     Kesiapan (set)

Kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam memulai suatu gerakan. kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

3.     Gerakan terbimbing (guided response)

Kemampuan untukmelakukan suatu gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan. Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan cobacoba. Misalnya, membuat lingkaran di atas pola.

4.     Gerakan yang terbiasa (mechanical response)

Kemampuan melakukan gerakan tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan karena sudah dilatih secukupnya. Membiasakan gerakangerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap. Misalnya, melakukan lompat tinggi dengan tepat.

5.     Gerakan yang kompleks (complex response)

Kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap dengan lancar, tepat dan efisien. Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

6.     Penyesuaian pola gerakan (adjusment)

Kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerakan dengan persyaratan khusus yang berlaku. Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi. Misalnya, keterampilan bertanding.

7.     Kreativitas (creativity)

Kemampuan untuk melahirkan pola gerakan baru atas dasar prakarsa atau inisiatif sendiri. Misalnya, kemampuannya membuat kreasi tari baru.

 

D.   Taksonomi Bloom Dalam Perspektif Pakar Pendidikan

Tingkatan-tingkatan dalam Taksonomi Bloom sebagai dasar untuk penyusunan tujuan-tujuan pendidikan, penyusunan tes, dan kurikulum di seluruh dunia. Kerangka Bloom ini memudahkan guru dalam memahami, menata, dan mengimplementasikan tujuan pendidikan. Berdasarkan hal tersebut Taksonomi Bloom menjadi sesuatu yang penting dan mempunyai pengaruh yang luas dalam wktu yang lama.

Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin W. Anderson beserta rekannya merevisi Taksonomi Bloom. Alasan anderson beserta rekannya merevisi Taksonomi Bloom sebab adanya kebutuhan untuk memadukan pengetahuan-pengetahuan dan pemikiran baru dalam sebuah kerangka kategorisasi tujuan pendidikan. Selain itu, taksonomi merupakan sebuah kerangka berpikir khusus yang menjadi dasar untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan pendidikan. Dengan diadakannya revisi, menurut Anderson taksonomi yang baru ini merefleksikan bentuk sistem berpikir yang lebih aktif dan akurat dibandingkan dengan taksonomi sebelumnya dalam menciptakan tujuan-tujuan pendidikan.

Revisi yang dilakukan ini khusus dalam domain kognitifnya. Dalam revisi ini, ada perubahan kata kunci dengan mengubah penamaan yang semula menggunakan kategori kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan secara hierarkis dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya, sebab Anderson dan Krathwohl memasukkan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada. Creating atau mencipta merupakan tingkatan tertinggi dalam sistem berpikir yang harus terintegrasi dalam tujuan pembelajaran.

            Revisi pada aspek kemampuan kognitif dipilah menjadi dua dimensi, yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan dalam proses belajar memuat objek ilmu yang disusun dalam empat jenis pengetahuan yakni pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Sedangkan dimensi proses kognitif memuat enam tingkatan, yaitu mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

 

E.    Teori Belajar dan Prinsip Belajar yang Melandasi Taksonomi Bloom

a.     Teori yang MelandasiTaksonomi Bloom

Teori belajar merupakan serangkaian prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta atau penemuan yang berkaitan dengan peristiwabelajar.

 

-        Teori Belajar Behavioristik (Tingkah Laku)

Belajar menurut aliran behavioristik adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dariinteraksi antara stimulus dan respons. Proses belajarsebagai perubahan perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasilpengalaman.

Para ahli yang banyak berkarya dalam aliran behavioristik, antara lain yang terkenal adalah teori Connectonism dari Thorndike, teori Classical Conditioning dari Pavlov, dan teori Operant Conditioningdari Skinner.

1)          Teori Connectonism

Teori ini dikemukakan oleh Edward L.Thorndike (1874-1949). Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respon (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) baik yang bersifatkonkret (dapat diamati)maupun yang non konkret (tidak bisa diamati).

Teori ini juga disebut trial and error learning, Sebab hubungan yang terbentuk antarastimulus dan respons tersebut timbul melalui proses trial and error, yaitu suatu upaya mencoba berbagai respons untuk mencapai stimulus meski bekali-kali mengalami kegagalan.

Thorndike juga membuat rumusan hukum belajar, yaitu: law of readiness (hukum kesiapan), law of exercise (hukum latihan), dan law of effect(hukum efek).

2)          Teori ClassicalConditioning

Teori ini dikemukakan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), melalui percobaannya yaitu anjing yang diberi stimulus bersyarat sehinggaterjadireaksi bersyarat pada anjing. Hal tersebut yntuk mengetahui bagaimana refleks bersyarat terbentuk dengan adanya hubungan antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), dan conditioned respons (CR). Penelitian Pavlov dikembangkan oleh John B. Watson bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melaluistimuluspengganti.

Menurut Watson, manusia dilahirkandengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus respon baru melalui conditioning.

3)          Teori OperantConditioning

Teori ini dikemukakan oleh BF. Skinner (1930-an) Skinner menganggap reward atau reinforcement faktor terpenting dalam proses pembelajaran. Menurut Skinner, perilaku terbentuk oleh konsekuensi yang ditimbulkannya. Apabila konsekuensinya       menyenangkan            (positive reinforcement) akan membuat perilaku yang sama akan diulangi lagi, sebaliknya bila konsekuensi tidak menyenangkan(negative reinforcement)akanmembuat perilaku untuk dihindari.

Dalam pembelajaran, operant conditioning menjamin respon-respon terhadap stimulus. Guru berperan penting dalam mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang tel;ah dirumuskan.

 

-        Teori BelajarKognitif

Teori belajar kognitif merupakan teori belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus danrespon. Teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Teori kognitif menekankan pentingnya proses mental seperti berpikir dan memfokuskan pada apa yang terjadi pada pembelajaran sehingga dapat menginterpretasi dan mengorganisir informasi secara aktif.

1)     Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif

Lahirnya teori belajar psikologi kognitif bermula dari teori belajar Gestalt tentang pengamatan dan problem solving. Konsep yang digunakan psikologi Gestalt adalah tentang insight yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan.

Menurut pandangan ini, semua kegiatanbelajar menggunakan insight yaitu pengamatanatau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan.

 

2)     Teori CognitiveField

Tokoh teori ini adalah Kurt Lewin (1892- 1947). Menurut Lewin bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan baik yang dari dalam maupun dari luar diri sesorangindividu seperti tantangan dan permasalahan.

3)     Teori CognitiveDevelopmental

Tokoh teori ini adalah Pieget mengenai tahap- tahapperkembanganpribadisertaperubahanumuryang mepengaruhi kemampuan belajar individu. Pieget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.

Menurut aliran ini,tahapan dalam proses belajara terdiri atas tiga tahap, yakni: asimilasi (proses penyatuan atau pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak peserta didik), akomodasi (penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru), dan equilibrasi (penyesuaian berkesinambunganantaraasimiliasi dan akomodasi).  Pengaplikasian dalam belajar, perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur dan konten intelektualnya berubah atau berkembang.

4)     Teori DiscoveryLearning

Bruner berpendapat bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yangmenjadisumbernya.

J. Dewey salah seorang yang mendukung teori ini berpendapat complete art of reflective activity atau yang terkenal problem solving. Mata pelajarandapatdiajarkansecaraefektifdalambentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara- cara yang bermakna, dan makijn meningkatkan kearah yang abstrak.

 

-        Teori BelajarHumanistik

Teori ini merupakan teori yang paling abstrak. Teori ini memandang bahwa proses belajar harusberhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Para pendidik membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya dengan mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada dirimereka.

Teori ini yang melatari dalam teori Bloom danKrathwohl dalam bentuk Taksonomi Bloom dengan tigaranah (kognitif, afektif dan psikomotor) yang harus dikuasai atau dipelajari oleh peserta didik. Taksonomi ini, banyak membantu para praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur.

 

b.     Prinsip Belajar yang Melandasi Taksonomi Bloom

Prinsip belajar sebagaidasar   dalam  upaya pembelajaran ini meliputi:

a.      Kematangan Jasmani dan Rohani

Kematangan jasmani ini,telah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya cukup kuat untuk melakukan kegiatan belajar .Sedangkan kematangan rohani yaitu telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar seperti kemampuan berpikir, ingatan dan sebagainya.

b.     Kesiapan

Kesiapan ini harus dimiliki oleh seorang yang hendak melakukan kegiatan belajar yaitu kemampuan yang cukup baik fisik, mental maupun perlegkapan belajar.Kesiapan fisik berarti memiliki tenaga cukup dan memiliki minat dan motivasi yang cukup.

c.      Memahami Tujuan

Setiap orang yang belajar harus memahamia padan kemanaarah tujuannya serta manfaat apa bagi dirinya. Dengan mengetahui tujuan belajarakan dapat mengadakan persiapan yang diperlukan, baik fisik maupun mental, sehingga proses belajar yang dilakukan dapat berjalan lancar dan berhasil dengan memuaskan.

d.     Memiliki Kesungguhan

Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan belajar agar hasil yang diperoleh memuaskan dan penggunaan waktu dan tenaga tidak terbuang percumaya itu lebih efisien.

e.      Ulangan dan Latihan

Sesuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap dalam otak, sehingga dikuasai sepenuhnya dan sukar dilupakan.

 

Dalam buku Belajar dan Pembelajaran oleh Dimyati dan Mudjiono menyebutkan prinsip belajar antara lain: perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung atau berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

 


BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu “tassein” yang berarti untuk mengklasifikasi dan “nomos” yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian, sampai pada kemampuan berfikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang  pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.

Taksonomi pendidikan lebih dikenal dengan sebutan “Taksonomi Bloom”. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan. Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.

Proses penerapan taksonomi Bloom tentu saja harus dianalisis tingkat kebutuhan dan karakteristis siswa/peserta didik yang kita ajar, proses pengetahuan gambaran awal kemampuan siswa tertera dalam Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) khususnya intake siswa.

 

B.    Saran

Terimakasih kepada teman-teman yang membantu menyelesaikan makalah ini. Kami juga berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan kami berharap kritik dan saran yang bersifat positif untuk kesempurnaan makalah ini. Bila ada kesalah kata atau kalimat kami mita maaf, sekian dan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Dahara,RatnaWilis. 2006 . Teori-Teori Belajar Dan Pembelajaran .Bandung:Erlangga

Gunawan, I., & Palupi, A. R. 2016. Taksonomi Bloom–revisi ranah kognitif: Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan penilaian. Premiere Educandum: Jurnal Pendidikan Dasar Dan Pembelajaran

Jufri,  A. Wahab. 2013. Belajar dan Pembelajaran Sains. Bandung: Pustaka Reka Cipta.

Sagala,Syaiful.2010.Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung:Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Tawadlu’un, F. 2014. Analisis kompetensi dasar mata pelajaran IPS SD/MI kurikulum 2013 di lihat dari Taksonomi Bloom.

            Wiranataputra,Udin.S.dkk.2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran.Jakarta:Universitas Terbuka.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSTITUSI

“KALKULATOR DIFERENSIASI NUMERIK MENGGUNAKAN METODE TAYLOR