“STRATEGI PENGEMBANGAN MODUL UNTUK PEMBELAJARAN ONLINE”
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Penggunaan
media dan sumber belajar bagian dari komponen yang mempengaruhi pembelajaran.
Bahan ajar perlu disesuaikan dengan kondisi siswa dan strategi pembelajaran
yang digunakan guru. Pemanfaatan dan pemberdayaan modul untuk menunjang
pembelajaran merupakan suatu keniscayaan, bukan hanya untuk meningkatkan
efektifitas dan kualitas pembelajaran, tetapi yang lebih penting adalah untuk
meningkatkan penguasaan materi baik guru maupun siswa.
Menurut Purwanto (2007: 9) Modul ialah bahan belajar yang
dirancang secara sistematik berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam
bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri
dalam satuan waktu tertentu. Tujuannya agar peserta dapat menguasai kompetensi
yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya.
Fungsinya sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran
peserta didik. (Purwanto, 2007: 10).
Masih
banyak dalam proses pembelajaran umumnya menggunakan metode dan media
konvensional dalam mengulas materi pengajaran. Akibat dari peserta didik
belajar menggunakan media konvensional berupa modul cetak dan metode dengan
gaya ceramah membuat materi yang disajikan menjemukan. Kelemahannya yaitu jika
peserta didik tidak dibekali dengan modul yang menarik dari materi yang
disampaikan, efeknya peserta didik akan kesulitan mengulang kembali materi pada
proses pembelajaran.
Berhasilnya
suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang
dialami oleh siswa. Seorang guru disamping dituntut untuk teliti dalam memilih
dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,
juga mampu memilih media yang sesuai dengan materi untuk mempermudah dalam
menyampaikan materi, untuk itu diperlukan media yang dapat menimbulkan daya
tarik peserta didik dalam menyerap materi. Salah satu media yang dapat
dikembangkan adalah modul pembelajaran interaktif berupa elektronik modul
(E-modul).
Kegiatan
pembelajaran saat ini menekankan pada keterampilan proses dan active learning,
maka media pembelajaran menjadi semakin penting (Tejo Nursito, 2011:20). Modul
dapat menfasilitasi peserta didik dalam belajar mandiri maupun konvensional.
Modul dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri, sehingga peserta didik dapat
belajar sesuai dengan kemampuannya dan dapat memenuhi seluruh kompetensi yang
harus dikuasai oleh peserta didik. Modul merupakan alat atau sarana
pembelajaran yang berisi materi, metode, batasanbatasan, dan cara mengevaluasi
yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang
diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya (Depdiknas, 2008:3).
Modul
cetak kurang mampu menyajikan suatu materi yang menggunakan simulasi.
Sehingga, siswa menjadi bosan dan
monoton karena masih disajikan dengan analog walaupun dimana-mana dimanjakan
dengan produk digital. Modul cetak membuat proses pembelajaran kurang menarik,
sedikit interaktif dan belum mampu menyampaikan pesan-pesan historis melalui
gambar dan video.
Modul
melalui multimedia dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, lebih
interaktif, mampu menyampaikan pesan pesan historis melalui gambar dan video,
menyemangatkan belajar siswa melalui instrumentalia, mampu mengembangkan indra
auditif atau pendengaran siswa sehingga materi yang disampaikan lebih mudah
dimengerti. Multimedia yang baik mampu menghadirkan berbagai macam
peristiwa-peristiwa yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran layaknya
persis dengan objek yang akan dihadirkan itu melalui berbagai manipulasi keadaan
yang dapat disimulasikan. Dari semua objek yang digambarkan, agar dalam media
penyampaiannya sesuai dengan keadaan nyata perlu adanya desain yang baik serta
harus memperhatikan runtut peristiwa yang akan dihadirkan agar siswa dapat
memahami secara runtut dan menimbulkan pemahaman yang baik tentang konsep yang
akan dijelaskan.
Hakikatnya
modul hendaklah menjadi sumber informasi yang mudah di cermati dan digunakan.
Pada dasarnya media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia
untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide,
gagasan, atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju
(Arsyad, 2006:4). Media yang baik seharusnya adalah media yang cara
peggunaannya mudah di operasikan, instruksi yang disampaikan mudah dimengerti
dan mudah ditanggap oleh peserta didik. Penyajian bahan pelajaran, bahasa yang
digunakan membuat peserta didik merasa akrab dengan modul serta termotivasi
untuk mempelajarinya, karena salah satu karakteristik modul adalah user
friendly.
Manfaat
penggunaan media E-modul sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran
antara lain, dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada didalam
kelas, dapat merangsang untuk berpikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.
Materi yang dikembangkan didalam modul bersifat pengayaan. Peserta dididk dapat
memperluas wawasan dengan mempelajari materi–materi tambahan yang disajikan
didalam modul, disediakannya games agar pengguna tidak bosan terhadap materi
dan kalimat mutiara ilmu sebagai menambah kepercayaan diri peserta didik,
selain itu juga terdapat pembahasan ulang beberapa materi yang diberikan di
kelas. Dengan demikian sebenarnya memotivasi kemandirian belajar peserta didik
serta dapat menjadi pemicu kreativitas bagi mereka.
Kriteria
perangkat lunak pembelajaran yang baik adalah kefleksibelannya, mudah di
update, isi atau content bahan yang berkaitan, kesahihan dan mudah digunakan
(User Friendly) (Norhashim et al, 1996:12). Keunggulan dari kebanyakan e-book
yang ada saat ini yaitu mudah dibawa, e-book tidak membutuhkan kertas dan
tinta, e-book lebih murah dari pada harga buku cetak dan pendistribusiannya
lebih mudah. Penggunakan kertas adalah salah satu penyebab dari efek rumah kaca
(global warming).
Modul
elektronik yang sudah ada kebanyakan hanya memindahi dari format hardcopy
menjadi softcopy. Modul elektronik ataupun e-learning yang berupa e-book atau
electronics book hanya memindahkan buku cetak atau tulisan dari hardcopy ke
bentuk softcopy dalam format HTML, XML atau Pdf.
Untuk
menunjang gaya belajar siswa yang bervariasi, dan dapat dilakukan oleh guru
yang memiliki minat belajar sekalipun, perlu di kembangkannya bahan ajar yang
dapat mengatasi permasalahan-permasalahan dalam proses pembelajaran. Salah
satunya dengan modul dan unsur pemanfaatan teknologi. Perkembangan teknologi
e-book mendorong terjadinya perpaduan antara teknologi cetak dengan teknologi
komputer dalam kegiatan pembelajaran. Modul cetak dapat ditranformasikan
penyajiannya ke dalam bentuk elektronik, sehingga melahirkan istilah E-module.
Dengan demikian, modul elektronik dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk
penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit
pembelajaran terkecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, yang disajikan
dalam format elektronik, dimana disetiap kegiatan pembelajaran didalamnya
dihubungkan dengan link-link sebagai navigasi yang membuat peserta didik
menjadi lebih interaktif dengan program, dilengkapi dengan penyajian video
tutorial, animasi dan audio untuk memperkaya pengalaman belajar.
Dalam
pembelajaran menggunakan komputer, bahan belajar elektonik yang dikembangkan
dapat diintegrasikan dengan metode instruksional tertentu sebagai cara dalam
menyampaikan materi pembelajarannya. Bentuk penyajian atau pengintegrasian
metode pembelajaran pada bahan ajar elektronik yaitu drill and practice,
tutorial, games, simulation, discovery, problem solving (Sharon E Smaldino
2003:120). Salah satu metodenya yaitu memberikan contoh dan latihan untuk
meningkatkan ketrampilan siswa terhadap penguasaan materi yang dipelajari.
Program hendaknya menyajikan berbagai format. Siswa biasanya diijinkan untuk
menjawab beberapa kali sebelum komputer menunjukkan jawaban yang benar.
Tersedia berbagai tingkat kesulitan yang dapat dilakukan siswa dalam program.
Modul
elektronik yang berupa softcopy belum dilengkapi dengan latihan – latihan soal
yang cara mengerjakannya di modul elektronik. E-book yang sudah ada kebanyakan
hanya bisa di baca karena memiliki berbagai format, yang terlihat dari
extension filenya seperti pdf, txt, doc, chm, dejavue, iSilo, dan lain-lain
(izzor.wordpress.com/2011/10/20). Hal ini membutuhkan berbagai aplikasi berbeda
untuk membukanya maupun membuatnya. Buku cetak yang dipindahkan ke bentuk
digital dan belum dilengkapi soal latihan bersifat interaktif, dimana pengguna
dapat langsung menjawab pertanyaan dan mengetahui nilai akhir dari soal-soal
yang telah dikerjakan. Penjelasan yang diberikan oleh guru dari hasil observasi
juga menunjukkan modul cetak yang dipindahkan ke format digital tidak bisa mengerjakan
latihan soal pada aplikasi tersebut. Modul elektronik yang akan dikembangkan
menggunakan pendekatan tutorial dan simulasi dalam menyajikan informasinya.
Latihan soal yang disediakan juga dapat dikerjakan pada program yang akan
dikembangkan, sehingga tidak perlu aplikasi dan media lain dalam menggunakan
program tersebut karena salah satu karakteristik modul adalah Stand Alone.
Sumber
belajar berupa E-modul diharapkan dapat menarik perhatian dan minat siswa
sehingga termotivasi untuk belajar. Dengan demikian E-modul diduga mampu untuk
meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada era 4.0.
B. Rumusan
Permasalah
1. Apa
saja manfaat modul?
2. Apa
saja komponen yang ada pada modul?
3. Bagaimana
strategi menyusun dan mengembangkan modul untuk pembelajaran dalam jaringan(daring)?
4. Apa
kelebihan dan kekurangan modul dalam proses pembelajaran dalam jaringan?
C. Tujuan Permasalahan
1. Untuk menjelaskan apa saja manfaat dari modul
2. Untuk memaparkan komponen yang ada pada modul
3. Untuk menjelaskan
strategi penyusunan dan pengembangan modul untuk pembelajaran dalam jaringan
4. Untuk menganalisis
kelebihan dan kekurangan modul dalam proses pembelajaran dalam jaringan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Manfaat
Modul
Pembelajaran
menggunakan modul bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:
1. Meningkatkan efektivitas
pembelajaran tanpa harus melalui tatap muka secara teratur karena kondisi
geografis, sosial ekonomi, dan situasi masyarakat.
2. Menentukan dan menetapkan
waktu belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan belajar siswa.
3. Secara tegas mengetahui
pencapaian kompetensi siswa secara bertahap melalui kriteria yang telah
ditetapkan dalam modul.
4. Mengetahui kelemahan atau
kompetensi yang belum dicapai siswa berdasarkan
kriteria yang ditetapkan dalam modul sehingga tutor dapat memutuskan dan
membantu siswa untuk memperbaiki belajarnya serta melakukan remidiasi.
B.
Komponen – komponen Modul
Untuk menuangkan apa-apa saja yang harus disajikan dalam
modul maka perlu ada komponen-komponen yang menyusun atau membangun modul
menjadi suatu kesatuan struktur bahan ajar yang baik. Garis-garis besar yang
diperlukan dalam modul juga disajikan dalam komponen-komponen penyusun
modul. Mustaji (2008:30-32), mengemukakan unsur-unsur modul secara rinci
sebagai berikut :
a. Rumusan tujuan instruksional yang eksplisit dan
spesifik
Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang
diharapkan dari siswa setelah mereka mempelajari modul.
b. Petunjuk guru
Memuat penjelasan bagi guru tentang pengajaran agar dapat
terlaksana dengan efisien, serta memberikan penjelasan tentang macam-macam
kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar, waktu untuk menyelesaikan
modul, alat-alat dan sumber pelajaran, serta petunjuk evaluasi.
c. Lembar kegiatan siswa
Lembaran ini berisi materi-materi pelajaran yang harus
dikuasai oleh siswa serta dicantumkan buku sumber yang harus dipelajari siswa
untuk melengkapi materi.
d. Lembar kerja siswa
Lembar kerja ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang ada
pada lembar kegiatan yang harus dikerjakan siswa setelah mereka selesai
menguasai materi.
e. Kunci lembar kerja
Siswa dapat mengoreksi sendiri jawabannya dengan menggunakan
kunci lembar kerja stelah mereka berhasil mengerjakan lembar kerja.
f. Lembar evaluasi
Lembar evaluasi ini berupa post test dan rating scale, hasil
dari post test inilah yang dijadikan guru untuk mengukur tercapai tidaknya
tujuan modul oleh siswa.
g. Kunci lembar evaluasi
Test dan rating scale beserta kunci jawaban yang tercantum
pada lembaran evaluasi disusun dan dijabarkan dari rumusan-rumusan tujuan pada
modul.
C.
Strategi
Penyusunan Modul pembalajaran e-Learning
Penulisan modul dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1.
Analisis Kebutuhan Modul
Analisis kebutuhan modul
merupakan kegiatan menganalisis silabus dan RPP untuk memperoleh informasi
modul yang dibutuhkan peserta didik dalam mempelajari kompetensi yang telah
diprogramkan. Nama atau judul modul sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi
yang terdapat pada silabus dan RPP. Pada dasarnya tiap satu standar kompetensi
dikembangkan menjadi satu modul dan satu modul terdiri dari 2-4 kegiatan
pembelajaran. Perlu disampaikan bahwa yang dimaksud kompetensi disini adalah
standar kompetensi dan kegiatan pembelajaran adalah kompetensi dasar.
Tujuan analisis kebutuhan modul
adalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus
dikembangkan dalam satu satuan program tertentu. Satuan program tersebut dapat
diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu semester, satu mata pelajaran atau
lainnya.
Analisis kebutuhan modul sebaiknya
dilakukan oleh tim, dengan anggota terdiri atas mereka yang memiliki keahlian
pada program yang dianalisis. Analisis kebutuhan modul dapat dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
1. Tetapkan
satuan program yang akan dijadikan batas/lingkup kegiatan. Apakah merupakan
program tiga tahun, program satu tahun, program semester atau lainnya.
2. Periksa
apakah sudah ada program atau rambu-rambu operasional untuk pelaksanaan program
tersebut. Misal program tahunan, silabus, RPP, atau lainnya. Bila ada, pelajari
program-program tersebut.
3. Identifikasi
dan analisis standar kompetensi yang akan dipelajari, sehingga diperoleh materi
pembelajaran yang perlu dipelajari untuk menguasai standar kompetensi tersebut.
4. Selanjutnya,
susun dan organisasi satuan atau unit bahan belajar yang dapat mewadahi
materi-materi tersebut. Satuan atau unit ajar ini diberi nama, dan dijadikan
sebagai judul modul.
5. Dari
daftar satuan atau unit modul yang dibutuhkan tersebut, identifikasi mana yang
sudah ada dan yang belum ada/tersedia di sekolah.
6. Lakukan
penyusunan modul berdasarkan prioritas kebutuhannya.
Untuk menganalisis kebutuhan
modul dapat menggunakan format berikut.
Format Analisis Kebutuhan Modul
Mata
Pelajaran
:
Standar
Kompetensi
:
|
Kompetensi
Dasar |
Pengetahuan |
Keterampilan |
Sikap |
Judul
Modul |
Ketersediaan |
|
|
Tersedia |
Belum
Tersedia |
|||||
Setelah
kebutuhan modul ditetapkan, langkah berikutnya adalah membuat peta modul. Peta
modul adalah tata letak atau kedudukan modul pada satu satuan program yang
digambarkan dalam bentuk diagram. Pembuatan peta modul disusun mengacu kepada
diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam KTSP. Setiap judul modul
dianalisis keterkaitannya dengan judul modul yang lain dan diurutkan
penyajiannya sesuai dengan urutan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pemetaan
modul dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
|
Silabus/RPP |
|
Pengetahuan,Keterampilan,
Sikap. |
|
Analisis
Kebutuhan |
|
Judul
modul |
|
Daftar
Judul Modul |
|
Pemetaan |
|
Peta
Modul |
|
PEMETAAN
MODUL |
2.
Desain Modul
Desain penulisan modul yang
dimaksud di sini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah
disusun oleh guru. Di dalam RPP telah memuat strategi pembelajaran dan media
yang digunakan, garis besar materi pembelajaran dan metoda penilaian serta
perangkatnya. Dengan demikian, RPP diacu sebagai desain dalam
penyusunan/penulisan modul.
Penulisan modul belajar diawali
dengan menyusun buram modul. Modul yang dihasilkan dinyatakan sebagai buram
sampai dengan selesainya proses validasi dan uji coba. Bila hasil uji coba
telah dinyatakan layak, barulah suatu modul dapat diimplementasikan secara riil
di lapangan.
Penulisan modul dilakukan sesuai
dengan RPP. Namun, apabila RPP belum ada, maka dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
1. Tetapkan
kerangka bahan yang akan disusun.
2. Tetapkan
tujuan akhir (performance objective), yaitu kemampuan yang harus dicapai
peserta didik setelah selesai mempelajari suatu modul.
3. Tetapkan
tujuan antara (enable objective), yaitu kemampuan spesifik yang menunjang
tujuan akhir.
4. Tetapkan
sistem (skema/ketentuan, metoda dan perangkat) evaluasi.
5. Tetapkan
garis-garis besar atau outline substansi atau materi untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yaitu komponen-komponen: kompetensi (SK-KD), deskripsi
singkat, estimasi waktu dan sumber pustaka. Bila RPP-nya sudah ada, maka dapat
diacu untuk langkah ini.
6. Materi/substansi
yang ada dalam modul berupa konsep/prinsip-prinsip, fakta penting yang terkait
langsung dan mendukung untuk pencapaian kompetensi dan harus dikuasai peserta
didik.
7. Tugas,
soal, dan atau praktik/latihan yang harus dikerjakan atau diselesaikan oleh
peserta didik.
8. Evaluasi
atau penilaian yang berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam
menguasai modul
9. Kunci
jawaban dari soal, latihan dan atau tugas.
Langkah-langkah penyusunan buram modul dapat
dilihat pada alur berikut ini.
|
Buram
Modul |
|
Buram
Modul |
|
Analisis
Materi |
|
RPP |
|
Perumusan
Tugas/Praktik |
|
Penyusunan
Evaluasi |
|
Tes
KognitifTes PsikomotorTes Sikap |
|
Penyusunan
Kunci Jawaban |
|
Tugas/Praktik
Untuk Penguatan Kognitif dan Psikomotorik |
|
Kunci
Jawaban |
|
Kerangka
Modul |
|
Tujuan
AkhirTujuan Antara |
|
Perumusan
Tujuan |
|
PENYUSUNAN
BURAM MODUL |
|
Perumusan
Evaluasi |
|
Sistem
Evaluasi |
Sebelum
modul diimplementasikan, perlu diuji coba terlebih dahulu. Uji coba dilakukan
terhadap buram modul yang telah dinyatakan valid. Karena modul telah dinyatakan
valid tidak berarti modul tersebut siap digunakan. Uji coba buram modul
dimaksudkan untuk mengetahui apakah buram modul dapat diimplementasikan pada
situasi dan kondisi sesungguhnya. Langkah ini dapat membantu meningkatkan efisiensi
penyiapan modul, sebelum diperbanyak untuk kepentingan pembelajaran. Hal-hal
yang perlu diujicoba antara lain adalah:
1. Kemudahan
bahan ajar digunakan oleh peserta didik dalam proses belajar.
2. Kemudahan
guru dalam menyiapkan fasilitas (alat dan bahan) belajar, mengelola proses
pembelajaran, dan dalam mengadministrasi-kannya.
Untuk
melakukan uji coba buram modul dapat diikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Siapkan
perangkat untuk uji coba (kriteria modul yang layak dan kuesioner kelayakan
modul). Penyiapan sebaiknya dilakukan oleh tim.
2. Tentukan
responden uji coba. sesuai dengan kondisi.
3. Siapkan
dan gandakan buram modul yang akan diujicobakan sesuai dengan jumlah responden.
4. Siapkan
sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengimplementasikan modul.
5. Informasikan
kepada responden tentang tujuan uji coba dan kegiatan yang harus dilakukan oleh
responden.
6. Lakukan
uji coba sebagaimana melakukan kegiatan pembelajaran dengan modul. sesungguhnya
7. Kumpulkan
data hasil uji coba.
8. Olah data
dan simpulkan hasilnya.
Bila
hasil uji coba buram modul layak, berarti modul tersebut siap diimplemtasikan
untuk kepentingan pembelajaran yang sesungguhnya, siap dicetak dan diperbanyak.
Sebaliknya, bila belum layak, maka harus dilakukan perbaikan seperlunya, sesuai
dengan masukan pada saat uji coba.
3.
Implementasi
Implementasi modul dalam kegiatan
belajar dilaksanakan sesuai dengan alur yang telah digariskan dalam modul.
Bahan, alat, media dan lingkungan belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan
pembelajaran diupayakan dapat dipenuhi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Strategi pembelajaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan skenario yang
ditetapkan.
4.
Penilaian
Penilaian hasil belajar
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik setelah
mempelajari seluruh materi yang ada dalam modul. Pelaksanaan penilaian
mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam modul. Penilaian hasil
belajar dilakukan menggunakan instrumen yang telah dirancang atau disiapkan
pada saat penulisan modul.
5.
Evaluasi dan Validasi
Modul yang telah dan masih
digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara periodik harus dilakukan evaluasi
dan validasi. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur apakah
implementasi pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain
pengembangannya. Untuk keperluan evaluasi dapat dikembangkan suatu instrumen
evaluasi yang didasarkan pada karakteristik modul tersebut. Instrumen ditujukan
baik untuk guru maupun peserta didik, karena keduanya terlibat langsung dalam
proses implementasi suatu modul. Dengan demikian hasil evaluasi dapat objektif.
Validasi merupakan proses untuk
menguji kesesuaian modul dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Bila
isi modul sesuai, artinya efektif untuk mempelajari kompetensi yang menjadi
target berlajar, maka modul dinyatakan valid (sahih). Validasi dapat dilakukan
dengan cara meminta bantuan ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari.
Bila tidak ada, maka dilakukan oleh sejumlah guru yang mengajar pada bidang
atau kompetensi tersebut. Validator membaca ulang dengan cermat isi modul.
Validator memeriksa, apakah tujuan belajar, uraian materi, bentuk kegiatan,
tugas, latihan atau kegiatan lainnya yang ada diyakini dapat efektif untuk
digunakan sebagai media mengasai kompetensi yang menjadi target belajar. Bila
hasil validasi ternyata menyatakan bahwa modul tidak valid maka modul tersebut
perlu diperbaiki sehingga menjadi valid.
|
Draft Modul |
|
Validator |
|
Penyempur-naan |
|
Validasi |
|
VALIDASI
MODUL |
|
Uji
Coba |
|
Penyempur-naan |
|
Modul |
6.
Jaminan Kualitas
Untuk menjamin bahwa modul yang
disusun telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pengembangan
suatu modul, maka selama proses pembuatannya perlu dipantau untuk meyakinkan
bahwa modul telah disusun sesuai dengan desain yang ditetapkan. Demikian pula,
modul yang dihasilkan perlu diuji apakah telah memenuhi setiap elemen mutu yang
berpengaruh terhadap kualitas suatu modul.
Untuk kepentingan penjaminan mutu
suatu modul, dapat dikembangkan suatu standar operasional prosedur dan instrumen
untuk menilai kualitas suatu modul.
D.
Kelebihan dan Kekurangan modul
pembalajaran e-Learning
Kelebihan :
1. Interactivity (Interaktifitas);
tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting atau messenger atau
tidak
langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau
buku tamu.
2. Independency (Kemandirian);
fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered
learning).
3. Accessibility (Aksesibilitas);
sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di
jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber
belajar pada pembelajaran konvensional.
4. Enrichment (Pengayaan);
kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai
pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video
streaming, simulasi dan animasi.
Kekurangan :
1. Untuk
daerah tertentu
terutama yang berada di daerah yang sulit koneksi internet , akan lebih sulit
untuk menjalankan modul online ini
2.
Siswa yang tidak
mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
3.
Bagi orang yang gagap
teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Di
masa pandemik Covid-19 saat ini, kegiatan pembelajaran di sekolah kebanyakan
dilakukan secara online. Penyusunan modul dilakukan dengan langkah" yang
tepat, mulai dari menganasilisis kebutuhan modul, desain modul, implementasi,
penilaian, evaluasi dan validasi, hingga jaminan kualitas. Dengan ini diharapkan strategi yang telah di
buat bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran secara online (daring).
Komentar
Posting Komentar