“STRATEGI PENGEMBANGAN MODUL UNTUK PEMBELAJARAN ONLINE”

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Penggunaan media dan sumber belajar bagian dari komponen yang mempengaruhi pembelajaran. Bahan ajar perlu disesuaikan dengan kondisi siswa dan strategi pembelajaran yang digunakan guru. Pemanfaatan dan pemberdayaan modul untuk menunjang pembelajaran merupakan suatu keniscayaan, bukan hanya untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas pembelajaran, tetapi yang lebih penting adalah untuk meningkatkan penguasaan materi baik guru maupun siswa.

Menurut Purwanto (2007: 9) Modul ialah bahan belajar yang dirancang secara sistematik berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu. Tujuannya agar peserta dapat menguasai kompetensi yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Fungsinya sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didik. (Purwanto, 2007: 10).

Masih banyak dalam proses pembelajaran umumnya menggunakan metode dan media konvensional dalam mengulas materi pengajaran. Akibat dari peserta didik belajar menggunakan media konvensional berupa modul cetak dan metode dengan gaya ceramah membuat materi yang disajikan menjemukan. Kelemahannya yaitu jika peserta didik tidak dibekali dengan modul yang menarik dari materi yang disampaikan, efeknya peserta didik akan kesulitan mengulang kembali materi pada proses pembelajaran.

Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Seorang guru disamping dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, juga mampu memilih media yang sesuai dengan materi untuk mempermudah dalam menyampaikan materi, untuk itu diperlukan media yang dapat menimbulkan daya tarik peserta didik dalam menyerap materi. Salah satu media yang dapat dikembangkan adalah modul pembelajaran interaktif berupa elektronik modul (E-modul).

Kegiatan pembelajaran saat ini menekankan pada keterampilan proses dan active learning, maka media pembelajaran menjadi semakin penting (Tejo Nursito, 2011:20). Modul dapat menfasilitasi peserta didik dalam belajar mandiri maupun konvensional. Modul dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri, sehingga peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuannya dan dapat memenuhi seluruh kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasanbatasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya (Depdiknas, 2008:3).

Modul cetak kurang mampu menyajikan suatu materi yang menggunakan simulasi. Sehingga,  siswa menjadi bosan dan monoton karena masih disajikan dengan analog walaupun dimana-mana dimanjakan dengan produk digital. Modul cetak membuat proses pembelajaran kurang menarik, sedikit interaktif dan belum mampu menyampaikan pesan-pesan historis melalui gambar dan video.

Modul melalui multimedia dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, mampu menyampaikan pesan pesan historis melalui gambar dan video, menyemangatkan belajar siswa melalui instrumentalia, mampu mengembangkan indra auditif atau pendengaran siswa sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dimengerti. Multimedia yang baik mampu menghadirkan berbagai macam peristiwa-peristiwa yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran layaknya persis dengan objek yang akan dihadirkan itu melalui berbagai manipulasi keadaan yang dapat disimulasikan. Dari semua objek yang digambarkan, agar dalam media penyampaiannya sesuai dengan keadaan nyata perlu adanya desain yang baik serta harus memperhatikan runtut peristiwa yang akan dihadirkan agar siswa dapat memahami secara runtut dan menimbulkan pemahaman yang baik tentang konsep yang akan dijelaskan.

Hakikatnya modul hendaklah menjadi sumber informasi yang mudah di cermati dan digunakan. Pada dasarnya media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan, atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju (Arsyad, 2006:4). Media yang baik seharusnya adalah media yang cara peggunaannya mudah di operasikan, instruksi yang disampaikan mudah dimengerti dan mudah ditanggap oleh peserta didik. Penyajian bahan pelajaran, bahasa yang digunakan membuat peserta didik merasa akrab dengan modul serta termotivasi untuk mempelajarinya, karena salah satu karakteristik modul adalah user friendly.

Manfaat penggunaan media E-modul sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran antara lain, dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada didalam kelas, dapat merangsang untuk berpikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut. Materi yang dikembangkan didalam modul bersifat pengayaan. Peserta dididk dapat memperluas wawasan dengan mempelajari materi–materi tambahan yang disajikan didalam modul, disediakannya games agar pengguna tidak bosan terhadap materi dan kalimat mutiara ilmu sebagai menambah kepercayaan diri peserta didik, selain itu juga terdapat pembahasan ulang beberapa materi yang diberikan di kelas. Dengan demikian sebenarnya memotivasi kemandirian belajar peserta didik serta dapat menjadi pemicu kreativitas bagi mereka.

Kriteria perangkat lunak pembelajaran yang baik adalah kefleksibelannya, mudah di update, isi atau content bahan yang berkaitan, kesahihan dan mudah digunakan (User Friendly) (Norhashim et al, 1996:12). Keunggulan dari kebanyakan e-book yang ada saat ini yaitu mudah dibawa, e-book tidak membutuhkan kertas dan tinta, e-book lebih murah dari pada harga buku cetak dan pendistribusiannya lebih mudah. Penggunakan kertas adalah salah satu penyebab dari efek rumah kaca (global warming).

Modul elektronik yang sudah ada kebanyakan hanya memindahi dari format hardcopy menjadi softcopy. Modul elektronik ataupun e-learning yang berupa e-book atau electronics book hanya memindahkan buku cetak atau tulisan dari hardcopy ke bentuk softcopy dalam format HTML, XML atau Pdf.

Untuk menunjang gaya belajar siswa yang bervariasi, dan dapat dilakukan oleh guru yang memiliki minat belajar sekalipun, perlu di kembangkannya bahan ajar yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan modul dan unsur pemanfaatan teknologi. Perkembangan teknologi e-book mendorong terjadinya perpaduan antara teknologi cetak dengan teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Modul cetak dapat ditranformasikan penyajiannya ke dalam bentuk elektronik, sehingga melahirkan istilah E-module. Dengan demikian, modul elektronik dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran terkecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, yang disajikan dalam format elektronik, dimana disetiap kegiatan pembelajaran didalamnya dihubungkan dengan link-link sebagai navigasi yang membuat peserta didik menjadi lebih interaktif dengan program, dilengkapi dengan penyajian video tutorial, animasi dan audio untuk memperkaya pengalaman belajar.

Dalam pembelajaran menggunakan komputer, bahan belajar elektonik yang dikembangkan dapat diintegrasikan dengan metode instruksional tertentu sebagai cara dalam menyampaikan materi pembelajarannya. Bentuk penyajian atau pengintegrasian metode pembelajaran pada bahan ajar elektronik yaitu drill and practice, tutorial, games, simulation, discovery, problem solving (Sharon E Smaldino 2003:120). Salah satu metodenya yaitu memberikan contoh dan latihan untuk meningkatkan ketrampilan siswa terhadap penguasaan materi yang dipelajari. Program hendaknya menyajikan berbagai format. Siswa biasanya diijinkan untuk menjawab beberapa kali sebelum komputer menunjukkan jawaban yang benar. Tersedia berbagai tingkat kesulitan yang dapat dilakukan siswa dalam program.

Modul elektronik yang berupa softcopy belum dilengkapi dengan latihan – latihan soal yang cara mengerjakannya di modul elektronik. E-book yang sudah ada kebanyakan hanya bisa di baca karena memiliki berbagai format, yang terlihat dari extension filenya seperti pdf, txt, doc, chm, dejavue, iSilo, dan lain-lain (izzor.wordpress.com/2011/10/20). Hal ini membutuhkan berbagai aplikasi berbeda untuk membukanya maupun membuatnya. Buku cetak yang dipindahkan ke bentuk digital dan belum dilengkapi soal latihan bersifat interaktif, dimana pengguna dapat langsung menjawab pertanyaan dan mengetahui nilai akhir dari soal-soal yang telah dikerjakan. Penjelasan yang diberikan oleh guru dari hasil observasi juga menunjukkan modul cetak yang dipindahkan ke format digital tidak bisa mengerjakan latihan soal pada aplikasi tersebut. Modul elektronik yang akan dikembangkan menggunakan pendekatan tutorial dan simulasi dalam menyajikan informasinya. Latihan soal yang disediakan juga dapat dikerjakan pada program yang akan dikembangkan, sehingga tidak perlu aplikasi dan media lain dalam menggunakan program tersebut karena salah satu karakteristik modul adalah Stand Alone.

Sumber belajar berupa E-modul diharapkan dapat menarik perhatian dan minat siswa sehingga termotivasi untuk belajar. Dengan demikian E-modul diduga mampu untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada era 4.0.

B.  Rumusan Permasalah

 

1.     Apa saja manfaat modul?

2.     Apa saja komponen yang ada pada modul?

3.     Bagaimana strategi menyusun dan mengembangkan modul untuk pembelajaran dalam jaringan(daring)?

4.     Apa kelebihan dan kekurangan modul dalam proses pembelajaran dalam jaringan?

C.  Tujuan Permasalahan

 

1.   Untuk menjelaskan apa saja manfaat dari modul

2.   Untuk memaparkan komponen yang ada pada modul

3.   Untuk menjelaskan strategi penyusunan dan pengembangan modul untuk pembelajaran dalam jaringan

4.   Untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan modul dalam proses pembelajaran dalam jaringan


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Manfaat Modul

Pembelajaran menggunakan modul bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:

1.     Meningkatkan efektivitas pembelajaran tanpa harus melalui tatap muka secara teratur karena kondisi geografis, sosial ekonomi, dan situasi masyarakat.

2.     Menentukan dan menetapkan waktu belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan belajar siswa.

3.     Secara tegas mengetahui pencapaian kompetensi siswa secara bertahap melalui kriteria yang telah ditetapkan dalam modul.

4.     Mengetahui kelemahan atau kompetensi yang belum dicapai siswa berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam modul sehingga tutor dapat memutuskan dan membantu siswa untuk memperbaiki belajarnya serta melakukan remidiasi.

B.    Komponen – komponen Modul

Untuk menuangkan apa-apa saja yang harus disajikan dalam modul maka perlu ada komponen-komponen yang menyusun atau membangun modul menjadi suatu kesatuan struktur bahan ajar yang baik. Garis-garis besar yang diperlukan dalam modul juga disajikan dalam komponen-komponen penyusun modul.  Mustaji (2008:30-32), mengemukakan unsur-unsur modul secara rinci sebagai berikut :

a. Rumusan tujuan instruksional yang eksplisit dan spesifik

Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang diharapkan dari siswa setelah mereka mempelajari modul.      

b. Petunjuk guru

Memuat penjelasan bagi guru tentang pengajaran agar dapat terlaksana dengan efisien, serta memberikan penjelasan tentang macam-macam kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar, waktu untuk menyelesaikan modul, alat-alat dan sumber pelajaran, serta petunjuk evaluasi.

c. Lembar kegiatan siswa

Lembaran ini berisi materi-materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa serta dicantumkan buku sumber yang harus dipelajari siswa untuk melengkapi materi.   

d. Lembar kerja siswa

Lembar kerja ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada lembar kegiatan yang harus dikerjakan siswa setelah mereka selesai menguasai materi.

e. Kunci lembar kerja

Siswa dapat mengoreksi sendiri jawabannya dengan menggunakan kunci lembar kerja stelah mereka berhasil mengerjakan lembar kerja.

f. Lembar evaluasi

Lembar evaluasi ini berupa post test dan rating scale, hasil dari post test inilah yang dijadikan guru untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan modul oleh siswa.   

g. Kunci lembar evaluasi

Test dan rating scale beserta kunci jawaban yang tercantum pada lembaran evaluasi disusun dan dijabarkan dari rumusan-rumusan tujuan pada modul.

C.    Strategi Penyusunan Modul pembalajaran e-Learning

 

Penulisan modul dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1.     Analisis Kebutuhan Modul

            Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis silabus dan RPP untuk memperoleh informasi modul yang dibutuhkan peserta didik dalam mempelajari kompetensi yang telah diprogramkan. Nama atau judul modul sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi yang terdapat pada silabus dan RPP. Pada dasarnya tiap satu standar kompetensi dikembangkan menjadi satu modul dan satu modul terdiri dari 2-4 kegiatan pembelajaran. Perlu disampaikan bahwa yang dimaksud kompetensi disini adalah standar kompetensi dan kegiatan pembelajaran adalah kompetensi dasar.

            Tujuan analisis kebutuhan modul adalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan dalam satu satuan program tertentu. Satuan program tersebut dapat diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu semester, satu mata pelajaran atau lainnya.

            Analisis kebutuhan modul sebaiknya dilakukan oleh tim, dengan anggota terdiri atas mereka yang memiliki keahlian pada program yang dianalisis. Analisis kebutuhan modul dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1.     Tetapkan satuan program yang akan dijadikan batas/lingkup kegiatan. Apakah merupakan program tiga tahun, program satu tahun, program semester atau lainnya.

2.     Periksa apakah sudah ada program atau rambu-rambu operasional untuk pelaksanaan program tersebut. Misal program tahunan, silabus, RPP, atau lainnya. Bila ada, pelajari program-program tersebut.

3.     Identifikasi dan analisis standar kompetensi yang akan dipelajari, sehingga diperoleh materi pembelajaran yang perlu dipelajari untuk menguasai standar kompetensi tersebut.

4.     Selanjutnya, susun dan organisasi satuan atau unit bahan belajar yang dapat mewadahi materi-materi tersebut. Satuan atau unit ajar ini diberi nama, dan dijadikan sebagai judul modul.

5.     Dari daftar satuan atau unit modul yang dibutuhkan tersebut, identifikasi mana yang sudah ada dan yang belum ada/tersedia di sekolah.

6.     Lakukan penyusunan modul berdasarkan prioritas kebutuhannya.

 

Untuk menganalisis kebutuhan modul dapat menggunakan format berikut.

Format Analisis Kebutuhan Modul

Mata Pelajaran                            :

Standar Kompetensi                    :

Kompetensi Dasar

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Judul Modul

Ketersediaan

Tersedia

Belum Tersedia

 

            Setelah kebutuhan modul ditetapkan, langkah berikutnya adalah membuat peta modul. Peta modul adalah tata letak atau kedudukan modul pada satu satuan program yang digambarkan dalam bentuk diagram. Pembuatan peta modul disusun mengacu kepada diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam KTSP. Setiap judul modul dianalisis keterkaitannya dengan judul modul yang lain dan diurutkan penyajiannya sesuai dengan urutan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pemetaan modul dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Silabus/RPP

 

Pengetahuan,Keterampilan, Sikap.

 

Analisis Kebutuhan

 

Judul modul

 

Daftar Judul Modul

 

Pemetaan

 

Peta Modul

 

PEMETAAN MODUL

2.     Desain Modul

            Desain penulisan modul yang dimaksud di sini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru. Di dalam RPP telah memuat strategi pembelajaran dan media yang digunakan, garis besar materi pembelajaran dan metoda penilaian serta perangkatnya. Dengan demikian, RPP diacu sebagai desain dalam penyusunan/penulisan modul.

            Penulisan modul belajar diawali dengan menyusun buram modul. Modul yang dihasilkan dinyatakan sebagai buram sampai dengan selesainya proses validasi dan uji coba. Bila hasil uji coba telah dinyatakan layak, barulah suatu modul dapat diimplementasikan secara riil di lapangan.

            Penulisan modul dilakukan sesuai dengan RPP. Namun, apabila RPP belum ada, maka dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1.     Tetapkan kerangka bahan yang akan disusun.

2.     Tetapkan tujuan akhir (performance objective), yaitu kemampuan yang harus dicapai peserta didik setelah selesai mempelajari suatu modul.

3.     Tetapkan tujuan antara (enable objective), yaitu kemampuan spesifik yang menunjang tujuan akhir.

4.     Tetapkan sistem (skema/ketentuan, metoda dan perangkat) evaluasi.

5.     Tetapkan garis-garis besar atau outline substansi atau materi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu komponen-komponen: kompetensi (SK-KD), deskripsi singkat, estimasi waktu dan sumber pustaka. Bila RPP-nya sudah ada, maka dapat diacu untuk langkah ini.

6.     Materi/substansi yang ada dalam modul berupa konsep/prinsip-prinsip, fakta penting yang terkait langsung dan mendukung untuk pencapaian kompetensi dan harus dikuasai peserta didik.

7.     Tugas, soal, dan atau praktik/latihan yang harus dikerjakan atau diselesaikan oleh peserta didik.

8.     Evaluasi atau penilaian yang berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menguasai modul

9.     Kunci jawaban dari soal, latihan dan atau tugas.

 

 

Langkah-langkah penyusunan buram modul dapat dilihat pada alur berikut ini.

Buram Modul

 

Buram Modul

 

Analisis Materi

 

RPP

 

Perumusan Tugas/Praktik

 

Penyusunan Evaluasi

 

Tes KognitifTes PsikomotorTes Sikap

 

Penyusunan Kunci Jawaban

 

Tugas/Praktik Untuk Penguatan Kognitif dan Psikomotorik

 

Kunci Jawaban

 

Kerangka Modul

 

Tujuan AkhirTujuan Antara

 

Perumusan Tujuan

 

PENYUSUNAN BURAM MODUL

 

Perumusan Evaluasi

 

Sistem Evaluasi

 

            Sebelum modul diimplementasikan, perlu diuji coba terlebih dahulu. Uji coba dilakukan terhadap buram modul yang telah dinyatakan valid. Karena modul telah dinyatakan valid tidak berarti modul tersebut siap digunakan. Uji coba buram modul dimaksudkan untuk mengetahui apakah buram modul dapat diimplementasikan pada situasi dan kondisi sesungguhnya. Langkah ini dapat membantu meningkatkan efisiensi penyiapan modul, sebelum diperbanyak untuk kepentingan pembelajaran. Hal-hal yang perlu diujicoba antara lain adalah:

1.     Kemudahan bahan ajar digunakan oleh peserta didik dalam proses belajar.

2.     Kemudahan guru dalam menyiapkan fasilitas (alat dan bahan) belajar, mengelola proses pembelajaran, dan dalam mengadministrasi-kannya.

 

            Untuk melakukan uji coba buram modul dapat diikuti langkah-langkah berikut ini:

1.     Siapkan perangkat untuk uji coba (kriteria modul yang layak dan kuesioner kelayakan modul). Penyiapan sebaiknya dilakukan oleh tim.

2.     Tentukan responden uji coba. sesuai dengan kondisi.

3.     Siapkan dan gandakan buram modul yang akan diujicobakan sesuai dengan jumlah responden.

4.     Siapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengimplementasikan modul.

5.     Informasikan kepada responden tentang tujuan uji coba dan kegiatan yang harus dilakukan oleh responden.

6.     Lakukan uji coba sebagaimana melakukan kegiatan pembelajaran dengan modul. sesungguhnya

7.     Kumpulkan data hasil uji coba.

8.     Olah data dan simpulkan hasilnya.

            Bila hasil uji coba buram modul layak, berarti modul tersebut siap diimplemtasikan untuk kepentingan pembelajaran yang sesungguhnya, siap dicetak dan diperbanyak. Sebaliknya, bila belum layak, maka harus dilakukan perbaikan seperlunya, sesuai dengan masukan pada saat uji coba.

3.     Implementasi

            Implementasi modul dalam kegiatan belajar dilaksanakan sesuai dengan alur yang telah digariskan dalam modul. Bahan, alat, media dan lingkungan belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran diupayakan dapat dipenuhi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Strategi pembelajaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan skenario yang ditetapkan.

4.     Penilaian

            Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik setelah mempelajari seluruh materi yang ada dalam modul. Pelaksanaan penilaian mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam modul. Penilaian hasil belajar dilakukan menggunakan instrumen yang telah dirancang atau disiapkan pada saat penulisan modul.

 

5.     Evaluasi dan Validasi

            Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur apakah implementasi pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembangannya. Untuk keperluan evaluasi dapat dikembangkan suatu instrumen evaluasi yang didasarkan pada karakteristik modul tersebut. Instrumen ditujukan baik untuk guru maupun peserta didik, karena keduanya terlibat langsung dalam proses implementasi suatu modul. Dengan demikian hasil evaluasi dapat objektif.

            Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian modul dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Bila isi modul sesuai, artinya efektif untuk mempelajari kompetensi yang menjadi target berlajar, maka modul dinyatakan valid (sahih). Validasi dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari. Bila tidak ada, maka dilakukan oleh sejumlah guru yang mengajar pada bidang atau kompetensi tersebut. Validator membaca ulang dengan cermat isi modul. Validator memeriksa, apakah tujuan belajar, uraian materi, bentuk kegiatan, tugas, latihan atau kegiatan lainnya yang ada diyakini dapat efektif untuk digunakan sebagai media mengasai kompetensi yang menjadi target belajar. Bila hasil validasi ternyata menyatakan bahwa modul tidak valid maka modul tersebut perlu diperbaiki sehingga menjadi valid.

Draft Modul

 

Validator

 

Penyempur-naan

 

Validasi

 

VALIDASI MODUL

 

Uji Coba

 

Penyempur-naan

 

Modul

 

6.     Jaminan Kualitas

            Untuk menjamin bahwa modul yang disusun telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pengembangan suatu modul, maka selama proses pembuatannya perlu dipantau untuk meyakinkan bahwa modul telah disusun sesuai dengan desain yang ditetapkan. Demikian pula, modul yang dihasilkan perlu diuji apakah telah memenuhi setiap elemen mutu yang berpengaruh terhadap kualitas suatu modul.

            Untuk kepentingan penjaminan mutu suatu modul, dapat dikembangkan suatu standar operasional prosedur dan instrumen untuk menilai kualitas suatu modul.

 

D.    Kelebihan dan Kekurangan modul pembalajaran e-Learning

 

Kelebihan :

1.    Interactivity (Interaktifitas);
tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting atau messenger atau tidak
langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau
buku tamu.

2.     Independency (Kemandirian);
fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered
learning
).

3.     Accessibility (Aksesibilitas);
sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di
jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber
belajar pada pembelajaran konvensional.

4.    Enrichment (Pengayaan);
kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai
pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video
streaming
, simulasi dan animasi.  

Kekurangan :

1.   Untuk daerah tertentu
terutama yang berada di daerah yang sulit koneksi internet , akan lebih sulit untuk menjalankan modul online ini

2.    Siswa yang tidak
mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

3.    Bagi orang yang gagap
teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

 

               Di masa pandemik Covid-19 saat ini, kegiatan pembelajaran di sekolah kebanyakan dilakukan secara online. Penyusunan modul dilakukan dengan langkah" yang tepat, mulai dari menganasilisis kebutuhan modul, desain modul, implementasi, penilaian, evaluasi dan validasi, hingga jaminan kualitas.  Dengan ini diharapkan strategi yang telah di buat bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran secara online (daring).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSTITUSI

“KALKULATOR DIFERENSIASI NUMERIK MENGGUNAKAN METODE TAYLOR